Dahulu kala, kira-kira 2500 tahun yang lalu, Periode Musim Semi dan Gugur (770 – 476 SM) China telah menentukan titik Winter Solstice yang dilakukan dengan cara melakukan pengamatan kepada pergerakan matahari secara intensif. Langkah tersebut merupakan titik awal dari 24 poin divisi musiman.

Winter Solstice menjadi sebuah festival dan dirayakan selama masa Dinasti Han (206 SM- 220 M) dan berkembang di masa Dinasti Tang dan Song. Orang-orang pada zaman Dinasti Han menganggap bahwa Winter Solstice sebagai Festival Musim Dingin, sehingga para pejabat akan mengatur waktu untuk merayakannya. Pada hari tersebut, baik itu pejabat maupun masyarakat umum akan beristirahat dan ikut larut dalam perayaan. Tentara ditempatkan, kawasan perbatasan ditutup, kegiatan bisnis dan perjalanan dihentikan. Kerabat dan teman-teman mereka menyajikan berbagai makanan yang lezat. Sementara pada masa Dinasti Tang dan Song, Winter Solstice merupakan hari untuk menghormati arwah leluhur. Kaisar akan pergi ke pinggiran kota untuk beribadah, dan masyarakat umum mempersembahkan kurban kepada orang tua mereka atau kerabat almarhum lainnya. Dinasti Qing bahkan lebih prestise lagi menganggap festival yang satu ini, ada catatan yang mengatakan bahwa Winter Solstice dianggap sebagai kegiatan formal yang dianggap hari sangat penting dan pantas untuk diperingati dan dirayakan.

Dibeberapa bagian China Utara, orang-orang banyak yang makan sup di hari tersebut, sementara warga di tempat lainnya banyak yang makan kue, dimana menurut mereka kegiatannya tersebut bisa menjaga mereka dari embun yang membekukan di musim dingin mendatang. Namun, di bagian China Selatan, seluruh keluarga akan makan makanan yang terbuat dari kacang merah dan beras ketan dengan bertujuan untuk mengusir hantu dan hal jahat lainnya. Sementara di lain tempat, dengan maksud yang sama untuk memperingati hari penting ini, banyak orang  yang makan Tangyuan, yakni semacam pangsit yang terbuat dari tepung beras ketan. Kue beras dlam Winter Solstice dapat digunakan sebagai kurban kepada para leluhur, atau hadiah untuk teman dan kerabat. Orang-orang Taiwan bahkan menjaga tradisi menawarkan sembilan kue untuk nenek moyang mereka.

Orang-orang Taiwan tersebut biasanya membuat kue dalam bentuk ayam, bebek, kura-kura dan sapi atau domba denan tepung beras ketan. Hewan-hewan yang dibuat tersebut menandakan keberuntungan dalam tradisi China. Orang-orang dari klan atau keluarga yang sama akan berkumpul di kuil untuk mengenang dan menghormati nenek morang mereka. Setelah upacara kurban, dalam kebiasaannya selalu ada pesta besar.

Pelaksanaannya

Festival ini dirayakan pada Bulan Desember dalam setiap tahunnya.

Klik Event dan Festival Hongkong yang lainnya!

Selamat Merayakan!